Tampilkan postingan dengan label Culture'n Tradition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture'n Tradition. Tampilkan semua postingan
Rabu, 16 Mei 2012 0 komentar

Tari Cendrawasih

~ Culture'n Tradition ~

Burung Cendrawasih
N.L.N Swasthi Wijaya Bandem
Tari Cendrawasih adalah sebuah tarian yang menggambarkan kehidupan burung Cendrawasih di pegunungan Irian Jaya yang terletak di Indonesia bagian timur.
Gerakan tarian ini mengisahkan sepasang burung Cendrawasih yang sedang memadu kasih yang menampilkan gerakan yang lincah dipadukan dengan gairah asmara sepasang burung yang indah. Tari Cendrawasih sendiri merupakan jenis tari favorit ditampilkan dalam event-event budaya di Indonesia.

Tari Cendrawasih\
Tari Cendrawasih merupakan tari duet yang ditarikan oleh penari putri, kendatipun dasar pijakannya adalah gerak tari tradisi Bali, beberapa pose dan gerakannya dari tarian ini telah dikembangkan sesuai dengan interpretasi penata dalam menemukan bentuk - bentuk baru sesuai dengan tema tarian ini. Busana ditata sedemikian rupa agar dapat memperkuat dan memperjelas desain gerak yang diciptakan.

Lukisan Cendrawasih
Tarian ini di ciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem yang merupakan seorang seniman Tari Bali kelahiran Denpasar yang telah menciptakan dan mengajarkan berbagai macam tarian sebagai budaya Indonesia. Selain itu ia juga yang berperan sebagai penata busana tarian ini dalam rangka mengikuti Festival Yayasan Walter Spies. penata tabuh pengiring adalah I Wayan Beratha dan I Nyoman Widha pada tahun 1988

Selain di Irian Jaya, keelokan Burung Cendrawasih juga dapat ditemui di Pulau Lombok bagian timur.
Selasa, 15 Mei 2012 0 komentar

Makna Penjor

~ Culture'n Tradition ~

Penjor

Upakara umat Hindu, terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana. Penjor adalah suatu hiasan pada upacara yang juga mengandung arti sebagai sebuah umbul-umbul dan simbol-simbol suci. Penjor juga merupakan persembahan terhadap Bethara di Gunung Agung yaitu Bhatara Giri Putri. Selain itu, Penjor juga telah menjadi salah satu warisan budaya dan tradisi yang masih dilaksanakan hingga sekarang.

Penjor ada 2 jenis:

1. Penjor Sakral
2. Penjor Hiasan

Penjor Galungan
Penjor Sakral merupakan bagian simbol dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau Penjor Hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll. 

Penjor Sakral mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya. Membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan simbol-simbol suci, sebagai 
landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. 

Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut:
- Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
- Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
- Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
- Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa.
- Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
- Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
- Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
- Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa.
- Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.

Penjor menjadi ciri khas Bali
Pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Pemasangan penjor saat hari raya Galungan telah menjadi ciri khas dari Pulau Bali, jadi jangan heran jika berkunjung ke Pulau Bali saat perayaan Galungan, di tepi jalan pasti akan berdiri begitu banyak penjor dengan tegaknya. Makna penjor adalah: kemenangan dharma melawan adharma, kesejahteraan dan kemakmuran, kelestarian lingkungan.
Kamis, 01 Maret 2012 1 komentar

Tari Pendet

~ Culture'n Tradition ~

Tari Pendet

Tari Pendet yang disepakati lahir pada tahun 1950 termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian bercerita tentang turunnya Dewi - Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali (Sakral) namun tari Pendet berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif. 

Tari Pendet yang dibawakan
beberapa Penari 
 
Memang Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura (Tempat ibadah umat Hindu di Indonesia), yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa - Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Namun Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawai. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sacral - religius dengan menyertakan muatan - muatan keagamaan yang kental.

I Wayan Rindi
Pencipta atau koreografer bentuk modern tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya.

Tari Pendet saat ini 
Pada 1961, I Wayan Beratha mengolah kembali tari pendet tersebut dengan pola seperti sekarang, termasuk menambahkan jumlah penarinya menjadi lima orang. Berselang setahun kemudian, I Wayan Beratha dan kawan-kawan menciptakan tari pendet massal dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang, untuk ditampilkan dalam upacara pembukaan Asian Games di Jakarta. 

Pendet memang merupakan tarian sakral umat Hindu. Namun, pendet sendiri adalah karya asli budaya Indonesia yang harus turut dipertahankan dan dilestarikan, agar warisan - warisan budaya Indonesia tidak semakin musnah dan hilang.
 
;